Cerpen Karya Siswa

TERNYATA

*Karya: Imh_Mha

______________________

“Kak, kapan kita bisa jalan-jalan seperti kak Rista dan Rania?” Tanya adik kecilku yang baru berumur 5 tahun kala itu.

Aku diam tak mampu menjawab. Adik terus merengek menarik ujung bajuku. Air mata yang mulai kutahan, kini sudah lolos keluar. Berulang kali Irsya adikku menanyakannya, Namun hanya sebuah janji yang kuberi, tak pernah ku tepati. Ku peluk tubuhnya yang kecil itu untuk menenangkannya. Irsya masih tetap merengek, seperti biasa ia lekas ku gendong dan ku usap pelan punggungnya agar terlelap.

“besok kita jalan-jalan” ucapku merayu meski hanya sebuah ilusi yang tak bertepi., ia pun tersenyum dan mulai memejamkan matanya.

Beberapa jam lalu, kami menyaksikan kepergian Rista dan Rania, saudara sepupu yang akan pergi jalan-jalan bersama ayahnya. Aku hanya diam tak menghiraukan, namun adikku ini memaksa ikut. Saat hendak mengejar, lengannaya langsung dicekal oleh Maya, tanteku. “mau kemana? Diam saja disini” titahnya kasar sambil menekan lengan Irsya kuat, membuat sang empu kesakiatan.

“oh iya! Jangan lupa cuci tumpukan baju di belakang” lanjutnya sebelum meninggalkan kami berdua. Aku yang waktu itu tidak bisa apa-apa hanya pasrah mengikuti apapun yang di perintahnya.

Dulu, sebelum kami tinggal di rumah tante Maya, adik ayahku, kami berdua tinggal di perumahan yang tak jauh dari tempat tinggal tante Maya. Tante Maya yang dulu dikenal lemah lembut, kini sudah bagai monster yang selalu membuat aku dan Irsya ketakutan. Apapun yang kulakukan, selalu salah dan tak pantas untuknya, dan setiap kali Irsya ingin bermain bersama anak keduanya Rania, yang hanya terpaut 2 bulan dengan Irsya, ia selalu mencegahnya. Entah apa yang membuat seperti ini. Dulu, apa saja yang menjadi milik Rista dan Rania, kami juga ikut merasakan. Tapi sekarang jangankan menyentuh, melihat pun tante Maya sudah menampilkan tatapan tajamnya untuk kami.

Sejak kepergian ayah dan ibu, tante Maya banyak berubah bahkan lebih terkenal pemarah dan egois. Tak ada lagi sikap peduli dan lemah lembut yang biasa iya perlihatkan dulu.

 “iya mas, Maya janji akan menjaga anak-anak mas layaknya anak kandung sendiri” ucapnya pada ayah yang berbaring lemah di rumah sakit.

Waktu itu ayah dan ibu hendak merantau ke negeri orang, namun naasnya, sebelum sampai di Bandara, mobil yang mereka tumpangi oleng hingga menabrak tiang listrik. Ibu dan penumpang lainnya meninggal dunia di tempat, hanya ayah yang masih bisa di selamatkan meski hanya beberapa jam sebelum ikut menyusul ibu. Aku yang saat itu masih menduduki bangku SMP, hanya bisa menangis sambil menggendong Irsya yang masih berusia 2 tahun.

Setelah mayat ayah di makamkan di ikuti mayat ibu disampingnya, aku dan Irsya diajak tante Maya untuk ikut tinggal bersamanya. Awalnya aku menolak, namun tante Maya tetap memaksa, mau tak mau akupun menuruti permintaannya. Ku kira kami akan hidup tenang dengannya, tapi nyatanya itu semua harapan semata, aku dan Irsya tak pernah mereka anggap ada.

Saat ini usiaku sudah menginjak 20 tahun dan Irsya 12 tahun. Ia sudah duduk di bangku SMP kelas VII. Umur kami terpaut 8 tahun, dan 18 belas tahun kami diperlakukan semena-mena. Mengingat masa lalu itu, membuatku tak tega melihat adik semata wayangku ini semakin tersiksa beratap disini. Aku berencana membawanya pergi jauh dari kota ini. Sudah cukup 18 tahun aku hanya diam, kali ini aku ingin bangkit dan membuktikan jika aku dan Irsya berhak bahagia, dan tak lagi mau diatur semaunya.

Malam ini ku putuskan menemui tante Maya dikamarnya , untuk menanyakan apa maksud sebenarnya dibalik sikap tante Maya akhir-akhir ini. Setibanya didepan pintu kamar tante Maya, aku urung membukanya, memilih mendengarkan pedebatan antara tante Maya dan Om Jaya suaminya.

“lebih baik kau secepetnya usir mereka, sebelum mereka tau usiamu sudah tidak lama lagi” terdengar suara Om Jaya yang sedikit parau. “hiks,hiks aku tak bisa melakukannya, aku benar-benar merasa bersalah telah menyiksa mereka berdua, jika aku mengusir mereka, mereka akan tinggal dimana?” sahut tante Maya sesenggukan, aku semakin mempertajam pendengaranku.

“ini semua bukan salahmu, tak perlu merasa bersalah, memang sudah sewajarnaya kita melakukan agar Ayla dan Irsya membenci kita. Aku tak mau lagi bergantung pada keluarga bang Farhan, sudah cukup ia berbuat baik pada keluarga kita. Ayla dan Irsya anak yang berprestasi, aku yakin mereka pasti sukses. Kita serahkan surat tanah rumah bang Farhan pada Ayla dan aku akan berbicara senyaman mungkin pada yang mengontrak rumah itu, untuk segera meninggalkan rumah bang Farhan besok pagi” jelas Om Jaya panjang lebar.

“bukannya rumah itu sudah kau jual?” sergah tante Maya di sela tangisnya, Samar kudengar tawa Om Jaya “tidak ,aku tidak menjualnya” “lalu?” potong tante Maya “aku sengaja mengontrakkan rumah itu agar tetap terawat, sekarang Ayla sudah dewasa. Sepantasnya ia kembali mendapatkan rumah peninggalan orang tuanya” “lalu uang dari hasil kontrakan itu?” potong tante Maya lagi “semua ada disini” balas Om Jaya tunjukkan, aku tak mengerti, kudengar tante Maya bernafas lega “baiklah besok akan ku selesaikan” pungkas tante Maya. Percakapan mereka tak lagi terdengar , mungkin sudah bersiap untuk tidur.

Aku yang masih berda di depan pintu, tak kuasa menahan air mata yang memaksa keluar. Aku tertegun mendengar percakapan mereka. Mereka orang yang ku anggap egois itu, ternyata sangat memperdulikan aku dan Irsya. Memang, meski kami tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka berdua, mereka tetap menyekolahkan aku dan Irsya. Bahkan saat ini aku masih mereka kuliahkan. Mulanya aku mengira mereka tidak ingin melihat kami senang atau memiliki masa depan yang cerah, namun penilaianku salah, justru mereka sangat peduli kepada kami juga pada masa depan kami.

Kembali aku urungkan niat yang ingin membawa Irsya pergi. Setelah mendengar percakapan dari mereka tadi, aku merasa bersalah karena sudah menuduh mereka yang tidak-tidak. Aku berjanji, saat gajiku bulan depan di tangan, aku akan membawa tante Maya pergi berobat, agar penyakit yang ia derita bisa diatasi menggunakan uang tabungan juga gaji bulan ini yang hendak ku gunakan membuat butik. Selain kuliah aku juga bekerja di sebuah butik sambil belajar menjahit tanpa sepengetahuan tante Maya dan Om Jaya 7 tahun lalu.

“Ayla janji, Ayla akan membuat tante sembuh seperti dulu” gumamku lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan yang urung ku masuki.

Bersambung. . . . .

_______________________

*Siswi Kelas X B MA Miftahul Ulum Al-Azizah Yosorati

2 thoughts on “TERNYATA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://gto777.com/ http://jsy.co.id/wp-content/slot-gopay/ http://jsy.co.id/wp-content/joker123/ http://jsy.co.id/wp-content/slot-gacor/ https://ar-rahmansmi.sch.id/-/slot-dana/ https://slot777.tallokec.makassarkota.go.id/ https://pba.uinsgd.ac.id/-/slot-thailand/ https://pba.uinsgd.ac.id/wp-content/uploads/slot-gacor/ https://pba.uinsgd.ac.id/-/joker123/ https://lab.te.unjani.ac.id/upload/slot-deposit-pulsa/ https://bpptik.kominfo.go.id/-/slot-gacor/ https://bpptik.kominfo.go.id/-/slot888/ https://bpptik.kominfo.go.id/-/slot777/ https://www.djsn.go.id/public/-/joker123/ https://www.djsn.go.id/public/-/rtp-live-slot/ https://www.djsn.go.id/public/-/slot-online/ http://sip2kp.tasikmalayakab.go.id/-/joker123/ https://feimoskva.org/ https://dinoheart.org/a https://cdcnepal.com/ https://quinnandfox.com/ https://mmafederation.com/ https://bhpmsport.com/ https://erau-news.com/ https://destination-store.com/ https://apexpharmainc.com/ https://greenhornlegal.com/ https://dinkes.wajokab.go.id/situs-slot/ https://dinkes.wajokab.go.id/slot777/ https://dinkes.wajokab.go.id/slot-online/ https://dinkes.wajokab.go.id/slot-terpercaya/ https://dinkes.wajokab.go.id/slot-gacor/ https://dinkes.wajokab.go.id/slot88/ https://ishtaproductions.com/